PENGARUH PERKAWINAN USIA MUDA TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT (STUDI KASUS PERKARA NOMOR 7/PDT.P/2019/PA.TALU)
Perkawinan usia muda bisa saja memicu perceraian. Hal ini bisa terjadi karena pelaku yang melakukan perkawinan usia muda biasanya belum memiliki kesiapan mental bahkan kesiapan ekonomi untuk berumah tangga yang mana mengakibatkan terjadinya perselisihan terus menerus.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penegakan hukum terkait batas usia muda pernikahan efektif dalam mencegah perkawinan usia muda terhadap tingkat perceraian di kabupaten pasaman barat dan untuk mengetahui bagaimana pengadilan menangani kasus perceraian pasangan yang menikah di usia muda di kabupaten pasaman barat studi kasus perkara Nomor 7/Pdt.P/2019/Pa.Talu. hasil penelitian ini menyatakan adanya upaya dari penegak hukum terkait batas usia pernikahan efektif dalam mencegah perkawinan di usia muda terhadap tingkat perceraian di kabupaten pasaman barat, seperti adanya beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan pernikahan dan adanya dispensasi dimana bagi yang mau menikah di usia muda harus sidang terlebih dahulu. Bersdasarkan kasus Perkara Nomor 7/Pdt.P/2019/Pa.Talu.dalam hal menangani kasus perceraian pasangan yang menikah usia muda, pengadilan berupaya secara ketentuan yang berlaku dengan cara melakukan persidangan, mediasi dan disertakan nasehat-nasehat dari majelis hakim untuk bersabar dan mempertahankan pernikahan yang telah dibina oleh pasangan tersebut.
Kata Kunci: Perkawinan, Usia Muda,Perceraian
A young marriage can lead to divorce. This can happen because the perpetrators of young marriages usually do not have the mental readiness and even economic readiness to settle down, which results in continuous disputes. The purpose of this research is to find out how law enforcement related to the young age limit of marriage is effective in preventing marriage at a young age against the divorce rate in west pasaman district and to find out how the court handles divorce cases ofcouples who marry at a young age in west pasaman district case study Number 7/Pdt.P/2019/Pa.Talu. the results of this study state that there are efforts from law enforcers related to the effective marriage age limit in preventing marriage at a young age against the divorce rate in West Pasaman district, such as the existence of several requirements that must be met before carrying out marriage and the existence of dispensation where those who want to marry at a young age must first have a trial. Based on the case of Case Number 7/Pdt.P/2019/Pa.Talu. in terms of handling divorce cases of couples who married at a young age, the court tried the applicable provisions by conducting trials, and mediation and included advice from the panel of judges to be patient and maintain the marriage that the couple had built.
Keywords:Marriage,Young Age,Divorce
Detail Information
| Bagian |
Informasi |
| Pernyataan Tanggungjawab |
- |
| Pengarang |
Silvi Andini - Personal Name
|
| Edisi |
Publish |
| No. Panggil |
808.238 |
| Subyek |
Silvi Andini
|
| Klasifikasi |
808 |
| Judul Seri |
|
| GMD |
Text |
| Bahasa |
Indonesia |
| Penerbit |
Institut Teknologi dan Ilmu Sosial Khatulistiwa |
| Tahun Terbit |
2024 |
| Tempat Terbit |
Pasaman Barat |
| Deskripsi Fisik |
- |
| Info Detil Spesifik |
Skripsi Prodi Ilmu Hukum Tahun 2024 |
Citation
. (2024).PENGARUH PERKAWINAN USIA MUDA TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT (STUDI KASUS PERKARA NOMOR 7/PDT.P/2019/PA.TALU).(Electronic Thesis or Dissertation). Retrieved from https://localhost/etd